SAPA UMKM: Go Digital atau Dianggap Ilegal?
Transformasi digital kian menjadi isu krusial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian UMKM merencanakan peluncuran aplikasi SAPA UMKM sebagai platform terintegrasi untuk meningkatkan pemberdayaan UMKM sekaligus mempermudah para pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya.
Rencana ini menjadi sorotan utama dalam Indonesia Business Forum bertajuk “SAPA UMKM: Go Digital atau Dianggap Ilegal?” yang disiarkan langsung oleh tvOne pada 27 Agustus 2025. Hadir sebagai pembicara antara lain Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, Kepala UKM Center FEB UI, Zahra K.N Murad, Ph.D, Wakil Ketua Umum Bidang UMKM Kadin Indonesia, Rifda Ammarina, serta Sekretaris Umum Komunitas Tangan Di Atas (TDA), Ferdian Brillian.
Integrasi Layanan UMKM dalam Satu Platform
Dalam paparannya, Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa aplikasi SAPA UMKM dirancang sebagai sistem terintegrasi yang mencakup pendataan, legalitas usaha, perizinan, akses pembiayaan, hingga pemasaran digital. Menurutnya, integrasi ini akan memungkinkan pemerintah memberikan dukungan yang lebih terarah.
“Kami menargetkan 40 juta pelaku UMKM dapat tercatat dalam aplikasi SAPA UMKM. Dengan begitu, layanan dan pembinaan bisa lebih tepat sasaran,” jelas Maman.
Apresiasi dari Dunia Usaha
Dukungan juga datang dari kalangan dunia usaha. Rifda Ammarina, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang UMKM, menyebut kehadiran SAPA UMKM sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kredibilitas UMKM di mata investor, lembaga keuangan, maupun mitra bisnis.
“Pendataan digital akan memperkuat posisi UMKM dalam ekosistem ekonomi. Melalui aplikasi ini, perusahaan juga dapat menjalin kerja sama CSR secara lebih terukur, sementara perbankan bisa menyalurkan pembiayaan dengan lebih tepat sasaran,” ujar Rifda.
Perspektif Komunitas UMKM
Dari sisi komunitas, Ferdian Brillian dari TDA menilai SAPA UMKM sejalan dengan semangat pemberdayaan yang selama ini diusung komunitas wirausaha. Meski begitu, ia menekankan perlunya kesiapan teknis dan strategi implementasi yang matang.
“Mengintegrasikan data 40 juta UMKM tentu bukan hal sederhana. Diperlukan sistem yang andal sekaligus pendampingan agar aplikasi ini benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar formalitas digital,” ungkap Ferdian.
Catatan Akademisi
Kepala UKM Center FEB UI, Zahra K.N Murad, Ph.D., menyampaikan dukungan atas rencana peluncuran SAPA UMKM. Menurutnya, digitalisasi telah terbukti memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha, termasuk peningkatan omzet sebagaimana tercermin dalam riset UKM Center FEB UI bersama Komdigi, Bappenas, dan GIZ.
Namun, ia menegaskan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan perangkat digital yang sudah usang, pola pikir bisnis yang belum berkembang, rendahnya literasi digital dan finansial, hingga akses internet dan informasi yang terbatas di wilayah 3T.
“Digitalisasi sangat penting, terbukti saat pandemi COVID-19, UMKM yang omzetnya meningkat pesat adalah mereka yang sudah masuk ekosistem digital. Tantangannya masih beragam, namun pemerintah perlu memastikan SAPA UMKM hadir sebagai solusi yang inklusif sekaligus menyatukan data UMKM yang selama ini tersebar di berbagai lembaga,” ujar Zahra.
Suara dari Pelaku UMKM
Forum ini juga memberi ruang bagi UMKM untuk berbagi pengalaman. Beberapa pelaku usaha mengaku masih kesulitan memahami aplikasi digital dan manajemen berbasis teknologi. Ada pula kekhawatiran terkait potensi biaya tambahan akibat kewajiban digitalisasi.
Meski demikian, sebagian besar pelaku usaha tetap optimistis. Mereka melihat peluang perluasan pasar dan peningkatan daya saing, asalkan disertai pendampingan yang tepat dan tidak menambah beban biaya operasional.
Menuju Ekosistem Digital yang Inklusif
Diskusi akhirnya menyimpulkan bahwa SAPA UMKM berpotensi menjadi jembatan penting bagi UMKM menuju ekosistem digital yang inklusif dan terintegrasi. Namun, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor:
- Ketersediaan infrastruktur digital yang merata.
- Pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha, terutama yang masih tertinggal dalam literasi digital.
- Pendekatan inklusif sehingga aplikasi tidak hanya menjadi alat kontrol administratif, melainkan benar-benar solusi praktis bagi pelaku usaha mikro.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan pelaku UMKM itu sendiri, SAPA UMKM diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam mempercepat transformasi digital UMKM Indonesia.

