Menjelang Hari Raya Idul Fitri, permintaan terhadap produk konsumsi meningkat terutama pakaian dan makanan. Bagi pengusaha, kenaikan permintaan tersebut menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Bertempat di Aula Student Center, Bedah UKM yang dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2014, mengusung tema tentang Bisnis Menjelang Hari Raya. Kegiatan Bedah UKM ini merupakan ajang silaturahim, berbagi pengalaman, dan promosi yang difasilitasi UKM Center FEUI, berkolaborasi dengan Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Depok.

Acara Bedah UKM dimulai pada pukul 09.30 WIB dan diawali dengan sambutan dari Kepala UKM Center FEUI, Ibu Dewi Meisari. Selanjutnya pembicara pada kesempatan Bedah UKM kali ini adalah, Ibu Erita Zurahmi, pemilik usaha Pakaian Muslimah Ukhti, dan Ibu Fitria Nurina Ramadhani, pemilik usaha Ayam Bakar Betawi dan Instant Chicken. Adapun Margaretha Chrisna Sari, pemilik usaha kuliner Rendang Den Lapeh, merupakan moderator acara yang memandu jalannya kegiatan Bedah UKM.

Ibu Erita sebagai pembicara pertama menceritakan pengalamannya dalam menjalankan bisnis pakaian muslimah berikut tantangan yang ia hadapi memenuhi permintaan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Menurut Ibu Erita, momen menjelang hari raya merupakan masa panen yang menguntungkan bagi para pemilik usaha, khususnya usaha fashion. Oleh sebab itu, pemilik usaha harus jeli melihat peluang dan memanfaatkannya. Ia menyarankan agar pemilik usaha membuat perencanaan dengan matang berupa “kalender panen usaha”. Kalender panen usaha berisi list to do mengenai hal-hal yang harus dilakukan para pengusaha agar sukses menghadapi “masa panen” tersebut. Ibu Erita sendiri merencanakan kalender masa panen usahanya dalam 4 tahap. Tahap pertama yaitu, 4 bulan sebelum Ramadhan. Pada tahap ini, ia mempersiapkan modal untuk membeli persediaan barang dan melakukan pengamatan trend fashion. Menurutnya, modal bisa diperoleh dari berbagai sumber misalnya dari keluarga terdekat, dengan menjual asset, dan menawarkan investasi kepada investor. Sementara itu, untuk memperoleh infromasi mengenai produk apa yang sedang trend, ia biasanya mengunjungi pusat perbelanjaan semisal Tanah Abang dan memperhatikan jenis barang apa yang paling laku terjual. Tahap kedua yaitu, 3 bulan sebelum Ramadhan. Pada tahap ini, Bu Erita menyarankan untuk segera menyimpan persediaan barang dagang. Sebab biasanya produk fashion sudah akan diborong dari supplier dari jauh hari, terutama 3 bulan sebelum Ramadhan. Persediaan yang banyak akan meningkatkan omset usaha. Oleh sebab itu, pemilik usaha pakaian tak perlu takut barangnya tak laku terjual, sebab persediaan yang tersisa bisa disimpan untuk dijual pada tahun depan. Ia mengingatkan untuk tidak asal membeli barang, artinya harus pilah pilih model apa yang sedang trend dan berkualitas. Tahap ketiga yaitu, 2 bulan sebelum ramadhan. Pada tahap ini biasanya konsumen sudah mulai mencari pakaian lebaran sehingga permintaan pesanan mulai mengalami peningkatan. Ia mengingatkan agar pengusaha mengevaluasi persediaan yang ada. Jika dirasa kurang karena permintaan meningkat, sebaiknya persediaan bisa ditambah. Konsinyasi dengan supplier bisa menjadi cara alternatif untuk mengatasi hal tersebut. Tahap terakhir yaitu, 1 bulan sebelum ramadhan. Umumnya permintaan terhadap pakaian lebaran mulai meningkat. Saat permintaan meningkat, pengusaha harus terus memantau persediaanya. Menurutnya, pengusaha harus tanggap jika persediaan mulai menipis. Biasanya persediaan barang di supplier adalah sisa-sisa barang yang tidak habis terjual. Bu Erita mengingatkan agar mendapatkan keuntungan lebih banyak, sebaiknya toko buka lebih cepat dan tutup lebih lama. Usahakan persediaan barang habis dengan segala usaha. Beberapa metode di antaranya bisa dilakukan dengan menggelar event-event dan memberi diskon untuk produk tertentu. Setelah masa panen berakhir, biasanya pengusaha memperoleh keuntungan yang banyak. Jangan habiskan uang tersebut. Bu Erita menyarankan agar uang tersebut dialokasikan dengan pembagian sebagai berikut : 30% untuk membeli asset tetap, 60% untuk modal, dan 10% dapat dinikmati.

Berikutnya adalah ibu Fitria Nurina Ramadhani yang membagi pengalaman bisnisnya di bidang kuliner. Beliau adalah pemilik usaha kuliner Ayam Bakar Betawi (Ayam Babe) dan Instant Chicken. Menurutnya selain bisnis fashion, bisnis makanan adalah salah satu bisnis yang menguntungkan saat bulan Ramadhan. Dalam tiga tahun, Ayam Babe telah membuka cabang di 3 tempat yaitu di Kelapa Dua, Kukusan, dan Pondok Duta. Selain Ayam Bakar Betawi, produk lain yang ia tawarkan dan baru mulai dipasarkan pada Mei 2014 lalu adalah Insant Chicken. Produk ini berupa ayam instant yang dapat dibeli dalam bentuk kemasan. Keunggulan dari Instant Chicken adalah diproduksi tanpa pengawet buatan. Ia menyarankan, disamping terus membenahi kualitas produk, pemilik usaha makanan juga harus mampu mengidentifikasi persaingan usaha untuk meningkatkan omset. Persaingan usaha hanya terjadi antar usaha-usaha sejenis yang membidik segmen pasar yang sama. Pemilik usaha harus jeli dalam mengidentifikasi jenis produk dengan melakukan segmentasi. Segmentasi produk dilakukan dengan mengidentifikasi kriteria produk berdasarkan kondisi geografis, demografis, daya beli masyarakat, psikografis, dan behavioral. Menurut Bu Fitria, salah satu faktor penting dalam menjual produk adalah menciptakan persepsi konsumen. Persepsi konsumen dapat terbentuk dengan menciptakan keunikan. Menurutnya, keunikan produk merupakan daya tarik bagi konsumen. Produk terkesan unik ketika memiliki perbedaan dengan produk lainnya. Ia menambahkan bahwa keunikan pada produk juga merupakan media komunikasi. Jika produk yang dijual unik, masyarakat terdorong untuk menjadikannya sebagai topik pembicaraan di tengah masyarakat. Dengan kata lain, keunikan produk menciptakan pemasaran yang efektif. Keunikan juga membuat produk memiliki perbedaan dengan produk lainnya. Menurutnya ini merupakan langkah keluar dari arena persaingan dengan produk lain yang sejenis. Di samping itu, jika produk yang dijual unik, maka konsumen akan mendapat manfaat lebih sehingga bersedia membayar lebih tinggi daripada produk pesaing. Selanjutnya, Bu Fitria menyampakan strategi menciptakan keunikan. Jika itu produk makanan, maka strategi menciptakan keunikan dimulai dari resep yang meliputi bahan baku dan komposisinya. Resep masakan akan menciptakan rasa yang berbeda sehingga terasa unik dibandingkan makanan lainnya. Selain itu, teknologi yang digunakan dalam proses produksi dan keahlian SDM juga mendorong terciptanya keunikan. Sementara itu, jika produk sudah siap jual, faktor-faktor lain yang mendorong terciptanya keunikan adalah kemasan, lokasi penjualan, suasana tempat makan, dan komunikasi interpersonal yang terjalin antara pegawai dan pelanggan. Jika semua faktor pendorong keunikan tersebut telah kita lakukan, maka hasil akhir dari produk tersebut akan menciptakan klasifikasi produk berdasarkan jenis yaitu produk unggulan dan produk utama. Produk unggulan adalah produk yang menjadi ciri khas sementara produk utama adalah produk yang menjadi sumber pendapatan utama.

Setelah sesi materi berakhir, moderator membimbing jalannya sesi tanya jawab dan diskusi. Sesi tanya berlangsung dalam tiga termin dimana masing-masing termin memberi kesempatan kepada tiga orang penanya. Setelah sesi tanya jawab dan diskusi selesai, acara ditutup dengan memberikan kenang-kenangan dari Ukhti kepada 10 peserta yang datang di awal waktu. Semoga kegiatan tersebut dapat memberi manfaat kepada para pelaku UKM yang hadir. Video bedah UKM tersebut dapat diakses melalui account youtube : UKM Center FEUI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Menu